A. PENDAHULUAN
Runtuhnya kebudayaan Abad pertengahan
di susul oleh periode pertentangan pemisahan dan perubahan-perubahan
mendalam dalam bidang politik, ekonomi dan agama. Periode Renaissance,
Reformasi dan Rasionalisasi merupakan peralihan ke arah dan juga
permulaan zaman modern. Pada masa abad modern ini pemikiran filsafat
berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan
kehidupan, sehingga corak pemikirannya: antroposentris, yaitu pemikiran
filsafatnya mendasarkan pada akal piker dan pengalaman.
Di atas telah di kemukakan bahwa
munculnya Renaissance dan Humanisme sebagai awal masa abad modern. Di
mana para ahli (filosof) menjadi pelopor perkembangan filsafat adalah
para pemuka agama. Dan pemikiran filsafat masa modern ini berusaha
meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi secara modern, serta membuka
sistematika yang sifatnya logis-ilmiah. Pemikiran filsafat diupayakan
lebih bersifat praktis, artinya pemikiran filsafat diarahkan pada upaya
manusia agar dapat menguasai lingkungan alam dengan menggunakan berbagai
penemuan ilmiah.
Dan ketiga aliran di ataslah yang
memberikan wajah baru pada kebudayaan Eropa Barat, yang lain dari
kebudayaan Abad Pertengahan. Perubahan ini merupakan proses selama
beberapa abad dan sangat lambat,sehingga para ahli sejarah masih belum
sependapat, dimana akan menempatkan batas antara berbagai periode itu.
Dalam abad XIX pemisahan antara Abad
Pertengahan dan Zaman Baru masih sangat jelas dan tajam. Renaissance ,
Reformasi, jatuhnya Konstatinopel, penemuan-penemuan geografis, penemuan
seni cetak buku semua terjadi dalam pertengahan abad XV dan dasawarsa
pertama abad XVI. Tetapi dengan dilontarkannya masalah pengertian
“Renaissance” oleh sementara orang untuk dikembalikan jauh ke masa Abad
Pertengahan, bahkan sampai masa Karel Agung dan lebih awal lagi, maka
masalah batas-batas orang yang tidak senang membicarakan Abad
Pertengahan dan Zaman Modern, tetapi lebih senang berbicara tentang
Kebudayaan Abad Pertengahan dan Kebudayaan Modern, yang dalam makalah
ini akan nampak jelas perbedaan dan selisih-selisihnya.
B. PEMBAHASAN
1. RENAISSANCE
Renaissance adalah istilah dari bahasa
Prancis. Dalam bahasa Lain, re + nasci berarti lahir kembali (rebirth).
Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarawan untuk menunjuk berbagai
periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa, dan
lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Istilah ini
mula-mula digunakan oleh seorang sejarawan terkenal, Michelet, dan
dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860) untuk konsep sejarah yang
menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan
kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang
dilawankan dengan periode Abad Pertengahan (Runes:270). Karya filsafat
pada abad ini sering disebut filsafat renaissance (Runes:271).
Selama abad ke-14 dan ke-15 di Italia
muncul keinginan yang kuat akan penemuan-penemuan baru dalam seni dan
sastra. Mereka telah melihat pada periode pertama bahwa kemajuan itu
telah terjadi. Ketika itu dunia Barat telah biasa membagi tahapan
sejarah pemikiran menjadi tiga periode,yaitu ancient, medieval, dan
modern. Pada Zaman Ancient atau Zaman Kuno itu melihat kemajuan
kemanusiaan telah terjadi. Kondisi itulah yang hendak dihidupkan .
Zaman Renaissance rupanya dianggap
juga sebagai suatu babak penting dalam sejarah peradaban. Voltaire,
orang yang membagi sejarah peradaban, menganggap Renaissance merupakan
babak ketiga dari keempat babak itu. Pada abad ke 19, Renaissance
terutama dipandang sebagai masa yang penting dalam seni dan sastra.
Menurut jules Michelet, sejarahwan prancis terkenal yang telah disebut
di atas, Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia. Dialah
yang mula-mula menyatakan bahwa Renaissance lebih dari sekedar
kebangkitan peradaban yang merupakan permulaan kebangkitan dunia modern.
Sejarahwan ini diikuti oleh Jakob Burckhard yang menginterprestasikan
Renaissance sebagai periode sejak Dante sampai Michelangelo di Italia,
yang merupakan kelahiran spirit modern dalam transformasi idea dan
lembaga-lembaga. Pendirian burckhadt ini kelak di kenang oleh
orang-orang yang mempelajari abad pertengahan. Mereka meragukan
peletakan tahun yang di kemukakan oleh Burckhardt itu (lihat
Encyclopedia Amarican, 23:368).dari berbagai perdebatan tentang
renaissance, yang dapat diambil ialah bahwa renaissance ialah periode
perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad
kegelapan sampai muncul abad modern. Perkembangan itu terutama sekali
dalam bidang seni lukis dan sastra. Akan tetapi, di antara perkembangan
itu terjadi juga perkembangan dalam bidang filsafat. Renaissance telah
menyebabkan manusia mengenali kembali dirinya, menemukan dunianya.
Akibat dari sini ialah muncul penelitian-penelitian empiris yang lebih
giat.
Berkembangnya penelitian empiris
merupakan salah satu ciri Renaisance. Oleh karena itu, ciri selanjuttnya
adalah munculnya sains. Di dalam bidang-bidang filsafat, zaman
Rennaisance tidak menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan
bidang seni dan sains. Perkembangan sains ini di pacu lebih cepat
setelah Descartes berhasil mengumumkan rasionalismenya. Sejak itu, dan
juga telah di mulai sebelumnya, yaitu sejak permulaan Renaisance,
sebenarnya individualisme dan humanism telah di canangkan. Descartes
memperkuat idea-idea ini. Humanisme dan individualisme merupakan ciri
Renaisance yang penting. Humenisme adalah pandangan yang tidak
menenangkan orang-orang yang beragama.
Tokoh penemu bidang sains pada masa
ini ialah Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johanes Kepler (1571-1630),
dari Galelio Galilei (1564-1643). Semuanya hidup pada zaman Renaisance,
baik bagian tengah maupun bagian akhirnya.
Zaman ini sering juga di sebut Zaman
Humanisme. Maksud ungkapan ini ialah manusia di anggap kurang dihargai
sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan dari gereja (kristen),
bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia. Humanisme menghendaki
ukuran haruslah manusia. Karena manusia mempunyai kemampuan untuk
berpikir, maka humanism menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan
mengatur dunia.
Jadi, ciri utama Renaissance ialah
humanism, individualism,lepas dari agama (tidak mau diatur oleh agama),
empirisme, dan rasionalisme.hasil yang diperoleh dari watak itu ialah
pengetahuan rasional berkembang. Filsafat berkembang bukan pada Zaman
Renaissance itu , melainkan kelak pada zaman sesudahnya (Zaman Modern).
Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisme itu. Agama
(Kristen) semakin ditinggalkan, ini karena semangat humanism itu. Ini
kelihatan dengan jelas kelak pada Zaman Modern. Rupanya setiap gerakan
pemikiran mempunyai kecenderungan menghasilkan yang positif, tetapi
sekaligus yang negatif. Apa tidak mungkin gerakan pemikiran itu hanya
menimbulkan yang positif saja? Mungkin. Contohnya gerakan Muhammad yang
mengajarkan Islam; gerakan Kant juga.
Jadi, Zaman Modern filsafat didahului
oleh Zaman Renaissance . Sebenarnya secara esensial Zaman Renaissance
itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari Zaman Modern. Ciri-ciri filsafat
Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern
adalah Descartes. Pada filsafatnya kita menemukan ciri-ciri Renaissance
tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali rasionalisme
Yunani (Renaissance), individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh
agama dan lain-lain. Sekalipun demikian, para ahli lebih senang menyebut
Descartes sebagai tokoh rasionalisme. Penggelaran yang tidak salah,
tetapi bukanlah hanya Descartes yang dapat dianggap sebagai tokoh
rasionalisme. Rasionalis pertama dan serius pada Zaman Modern memang
Descartes.
2. AUFKLARUNG
Zaman Aufklarung ini dikenal dengan
“zaman pencerahan” atau “zaman fajar budi”, (dalam bahasa inggris
“Enlightenment” dan dalam bahasa jerman “Aufklarung”). Aufklarung
merupakan kelanjutan dari renaissance, kalau renaissance dipandang
sebagai peremajaan pikiran, maka aufklarung menjadi masa pendewasaannya.
Dalam zaman ini juga banyak muncul tokoh-tokoh filsuf, seperti di
Inggris: J. Locke (1632-1704), G.Berkeley (1684-1753) dan D. Hume
(1711-1776), di Prancis: JJ. Russeau (1712-1778).
Umumnya tokoh-tokoh ini mendasarkan
pengetahuannya pada pengalaman nyata, sehingga mengarah kepada realisme
yang naïf, yang mengakui kebenaran objektif atas dasar pengalaman yang
tanpa penelitian lebih lanjut. Tetapi kenyataan ini berubah ketika
filsuf Jerman, Immanuel Kant (1724-1804), muncul yang mencoba
menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme, sehingga ia
dianggap sebagai filsuf terpenting zaman modern.
Keberagaman pemikiran yang berkembang
melahirkan berbagai pemahaman dan kepercayaan, masing-masing mulai
membentuknya menjadi semacam paradigma yang diakui dan diterima oleh
sebuah kelompok. Paradigma yang diakui inilah kemudian muncul dan
menjadi semacam sekte atau aliran-aliran dalam perkembangan filsafat
Barat, seperti yang akan diuraikan berikut ini.
a. Rasionalisme
Nuansa pemikiran yang berkembang dalam
zaman Renaissance dan aufklarung membawa ciri khas yang berbeda. Ini
terlihat melalui dua aliran besar yang menjadi titik tolak munculnya
berbagai macam aliran lain dalam perkembangan pemikiran filsafat
selanjutnya. Dua aliran yang di maksud adalah “ rasionalisme” dan
“empirisme”, yang memperlihatkan kontradiksi yang sangat menyolok.
Secara umum, Rasionalisme merupakan
pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber
utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas dan bebas dari pengamatan
indrawi. Hanya pengetahuan yang di peroleh melalui akal yang memenuhi
syarat yang di tuntut oleh sifat umum, juga oleh semua pengetahuan
ilmiah.
Hampir semua ahli pikir yang muncul
pada zaman ini merupakan ahli matematika, seperti Descrates, Spinoza dan
Leibniz. Mereka mencoba menyusun suatu sistem filsafat dengan manusia
yang sedang berfikir.
Akal budi (rasio) menurut pendapat
mereka merupakan alat terpenting bagi manusia untuk mengerti dunianya
dan mengatur hidupnya, namun demikian, tidaklah berarti gagasan baru
yang diperkenalkan renaissance berjalan mulus tanpa rintangan.
Rasionalisme mendapat tanggapan dari tokoh lain yang mencoba
memperlihatkan unsur rasa(hati) benih penting di bandingkan rasio.
b. Empirisme
Doktrin empirisme adalah lawan dari
rasonalisme yang menganggap bahwa sumber seluruh pengetahuan harus di
cari dalam pengalaman.Tokoh empirisme pada umumnya memberikan tekanan
lebih besar pada pengalaman di bandingkan dengan filsuf-filsuf lain.
Pengalaman indrawi menurut mereka adalah satu-satunya sumber
pengetahuan, bukan akal(rasio). Akal budi sendiri tidak dapat memberikan
pengetahuan kepada kita tentang realitas tanpa acuan pengalaman indrawi
dan panca indra kita. Informasi yang di peroleh indera merupakan
fundamen semua ilmu pengetahuan, sedang akal budi (rasio) mendapat tugas
untuk mengolah bahan-bahan yang di peroleh dari pengalaman, metode yang
di terapakan adalah metode induksi.
Aliran empirisme mengakui langkah yang
telah ditanamkan Francis Bacon (1561-1626), yang memberi tekanan kepada
pengalaman sebagai sumber pengenalan. Warisan ini diterima dan
dikembangkan oleh tokoh-tokoh terkemuka empirisme, seperti Thomas Hobbes
(1588-1679), John Locke (1632-1704) dan D.Hume (1711-1776).
Sasaran filsafat menurut Thomas Hobbes
adalah fakta-fakta yang diamati, tujuannya mencari sebab-sebab,
sedangkan alatnya adalah pengertian-pengertian yang diungkapkan dalam
kata-kata yang menggambarkan fakta-fakta itu. Di dalam pengamatan
disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bentuk pengertian-pengertian
yang ada dalam kesadaran kita. Sasaran ini diperoleh melalui perantaraan
pengertian tentang ruang, waktu, bilangan dan gerak yang diamati pada
benda-benda yang bergerak . Dapat dipahami bahwa tidak semua yang
diamati pada benda-benda itu bersifat nyata, yang benar-benar nyata
adalah gerak, sedang yang lainnya hanya nyata ada dalam perasaan si
pengamat saja. Segala yang ditentukan oleh hukum kausalitas
(sebab-akibat), termasuk di dalamnya kesadaran kita.
Epistimologi-empiris Hobbes
mengajarkan bahwa pengenalan atau pengetahuan diperoleh karena
pengalaman dan pengalaman merupakan awal segala pengetahuan. Segala
jenis pengetahuan diturunkan dari pengalaman, dan hanya pengalaman yang
dapat memberi jaminan akan sebuah kepastian .
Sementara itu, John Locke (1632-1704),
menerima keraguan sebagaimana diajarkan Descartes. Ia mencoba
menggantikannya dengan generalisasi yang berlandaskan pada pengalaman
(induksi). Locke menolak asal dari sumber pengetahuan, tetapi ia
menerima kepastian matematis dan cara penarikan metode induksi.
Menurut John Locke, semua jenis
pengetahuan lahir dari pengalaman. Hal ini menghapus kesan filsafat
Plato tentang ide, sebab tidak ada ide diturunkan, juga tidak ada
innatea idea seperti yang dipahami Descartes, yang ada hanyalah
persetujuan umum sebagai sebuah argumen yang kuat. Sebagai sebuah
konsekuensi yang hendak diperoleh John Locke dalam sistem pemikirannya,
ia berusaha mempertemukan empirisme dengan rasionalisme.
Dengan lapangan ilmu pengetahuan,
Locke membedakan antara pengetahuan sensation (lahiriah) dengan
reflection (batiniah), keduanya saling berkaitan. Pengetahuan lahiriah
menghasilkan gejala-gejala psikis yang harus ditanggapi oleh pengetahuan
batiniah. Objek-objek tampil dalam kesadaran disebabkan oleh pengalaman
lahiriah yang telah diperoleh pengalaman batiniah, yang pada akhirnya
manusia dapat melahirkan gagasan-gagasan. Gagasan-gagasan ini oleh
Hobbes dijadikan sebagai sasaran utama bagi pengenalan .
Pengenalan yang dimaksud adalah
pengenalan terhadap ide-ide sebagai kesan yang dimiliki oleh subjek yang
mengenal. Gagasan-gagasan tunggal yang dimiliki dari pengalaman
batiniah olehnya dianggap objektif, sebab dikenal dalam kesadaran
sebagaimana adanya. Akan tetapi Locke menganggap semua gagasan tunggal
dari pengalaman lahiriah adalah benar, sejauh gagasan itu disebabkan
oleh realitas yang ada di luar diri kita serta hadir dalam kesadaran.
Implikasi dari teori pengenalannya,
Locke dalam filsafat etikanya menolak adanya pengertian kesusilaan
(seperti perintah tuhan yang harus ditaati supaya tidak dinilai sebagai
pendosa) sebagai bawaan tabiat manusia. Baginya, kebebasan kehendak
adalah hak asasi manusia dalam menentukan apa yang akan dilakukan. Hal
ini semata-mata karena pandanagan dan pertimbangan rasional, bukan
paksaan dari luar. Atas dasar ini pula Locke menentang bentuk
pemerintahan negara Absolut dan juga menentang kekuasaan negara atas
agama. Negara tidak boleh memeluk agama dan negara juga tidak berhak
memerintahkan atau meniadakan dogma-dogma. Tiap warga negara bebas dalam
soal keagamaan.
Terlihat bahwa Locke filsuf teistis.
Memang agama Kristen merupakan agama yang paling masuk akal dibanding
dengan agama-agama lain, karena dogma-dogma hakiki agama dapat
dibuktikan dengan akal bahkan pengertian tentang Tuhan disusun melalui
pembuktian-pembuktian, yang berpangkal pada eksistensi manusia sebagai
makhluk yang berakal, bukan pada pembuktian adanya Tuhan.
Tokoh lain adalah D. Hume (1711-1776),
seorang empiris yang konsisten. Dalam karya terbesarnya, Hume
memperkenalkan metode eksperimental sebagai dasar menuju subjek-subjek
moral dengan mengupas panjang lebar mengena emosi manusia dan
prinsip-prinsip moral.
Apabila merujuk kepada era
perkembangan filsafat, tokoh rasionalisme seperti Descartews dan John
Locke dapat tergolong filsuf abad 17 yang dikenal dengan zaman barok
(renaissance), sedang D. Hume termasuk filsuf abad 18 yang dikenal
dengan Zaman Fajar Budi (aufklarung).
c. Kantianisme
Sejarah filsafat adalah sejarah
pertarungan akal dan hati (iman) dalam berebut dominasi dan
mengendalikan jalan hidup manusia. Kadang-kadang akal yang menang,
tetapi di waktu lain iman yang menang mutlak dan keduanya membahayakan
hidup manusia. Sebenarnya yang menguntungkan hidup manusia adalah
apabila akal dan iman mendominasi hidup manusia secara seimbang.
Terdapat sekurang-kurangnya tiga filosof besar dalam masalah ini yaitu:
Sokrates yang berhasil menghentikan pemikiran sufisme dan menundukkan
akal dan iman pada posisinya. Descrates yang berhasil menghentikan
dominasi iman (kristen) dan menghargai kembali akal. Kant yang berhasil
menghentikan sufisme modern untuk untuk menundukkan kembali akal dan
iman pada kedudukan masing- masing. Dalam kerangka inilah agaknya Kant
mendapat tempat yang lebih lumayan dalam sejarah filsafat. Nama
lengkapnya Immanuel Kant (1724-1804) adalah salah seorang kritikus dan
pemikir besar di Barat. Dia dengan gigih berupaya mendamaikan
pertentangan yang terjadi antara rasionalisme daengan empirisme. Kalau
di timur al-Ghazali dikenal sebagai tokoh yang sebanding dengannya, yang
mampu menghapus kekacauan dalam agama disebabkan kerancuan pemahaman
mengenai filsafat.
Kant mencoba merumuskan kebenaran ilmu
pengetahuan melalui dua paham yang bertentangan, yakni rasionalisme dan
empirisme. Ia berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil kerjasama dua
unsur, yakni pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman indrawi
adalah adalah unsur a posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal
budi merupakan unsur a priori (yang datang lebih dulu)
Kedua aliran bersebrangan ini hanya
mengakui salah satu unsur saja sebagai sumber pengetahuan, sehingga
menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini diselesaikan Kant dengan
membedakan kebenaran menjadi 3 macam, kebenaran akal budi, kebenaran
rasio dan kebenaran inderawi .
d. Idealisme
Idealisme mempunyai argumen
epistimologi tersendiri. Oleh karena itu tokoh-tokoh teisme yang
mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit (roh). Argumen yang
diajukan bahwa objek-objek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan.
Argumen orang-orang idealis mengatakan bahwa objek-objek fisik tidak
dapat dipahami terlepas dari spirit .
Idealis secara umum berhubungan dengan
rasionalisme. Ini adalah madzhab epistimologi yang mengajarkan bahwa
pengetahuan deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan
rasionalisme dalam epistimologi ialah empirisme yang mengatakan bahwa
pengetahuan bukan dari akal, melainkan melalui pengalaman empiris.
Aliran idealisme ini diwakili oleh
beberapa tokoh, diantaranya J.G.Fitche (1762-1914), F.W.S.Schelling
(1775-1854), dan F.Hegel (1770-1031).
J.G.Fitche lahir di Rilsaammenau,
Jerman pada tahun 1762, Filsafat Fitiche adalah filsafat pengetahuan
yang sekarang dikenal dengan sebutan epistimologi. Ia membedakan
pengetahuan membedakan pengetahuan menjadi dua, pengetahuan teoritis dan
pengetahuan praktis.
Schelling lahir di Leonberg pada tahun
1775. Dia belajar teologi protestan di Tubingen, ketika usia masih
remaja ia sudah menerbitkan berbagai tulisan-tulisan yang sangat
penting. Schelling juga menjadi guru besar untuk ilmu alam dan filsafat
di Leipzing Jena . Corak berfikir Schelling di masa akhir hidup sangat
berbeda dengan masa mudanya. Biasanya dibedakan 4 periode dalam pikiran
Schelling, yaitu:Periode filsafat alam, Periode sistem idealism, Periode
sinkretisme dan Periode teosofi.
e. Positivisme
Pada dasarnya positivisme bukanlah
suatu aliran yang berdiri sendiri. Ia hanya menempurnakan empirisme dan
rasionalisme yang bekerja sama. Artinya ia menyempurnakan metode ilmiah
dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukurannya. Jadi pada
dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme dan rasionalisme. Hanya
bedanya empirisme menerima pengalaman batiniah sedangkan positivisme
membatasi pada pengalaman objektif saja .
Pelopor utama positivisme adalah
Auguste Comte (1798-1857), seorang filsuf perancis yang besar
pengaruhnya terhadap perkembangan sains dan teknologi modern.
f. Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran yang inti
filsafatnya adalah pragmatik dan menentukan nilai pengetahuan
berdasarkan kegunaan praktisnya. Pragmatisme kritis terhadap spekulasi
metafisik dalam meraih kebenaran. Dalam pragmatisme, realitas objektif
diidentikkan dengan pengalaman dan pembagian pengetahuan ke dalam subjek
dan objek hanya dilakukan di dalam pengalaman. Tentang logika, aliran
ini jatuh kepada irrasionalisme. Pragmatisme juga menganggap hukum-hukum
dan bentuk-bentuk logika seperti fiksi-fiksi yang berguna.
William James (1842-1910), salah satu
yang populer dalam aliran ini, mengatakan di dalam bukunya The Meaning
of Truth, bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bera
yang kisifat tetap dan yang berdiri lepas dari akal yang mengenal.
Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar
dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam
praktek, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman
berikutnya .
g. Fenomenologi
Ahli fenomenologi yang pertama dan
penting adalah Edmund Husserl (1859-1938) yang memulai karir filsafatnya
dengan suatu buku tentang dasar-dasar ilmu hitung, yang sekarang
terutama terkenal dengan kritik Frenge yang sangat kejam terhadapnya.
Tulisan Hasserl yang paling menarik perhatian adalah Logical
Investigation (1900-1901). Idea for a Pure Phenomenology (1913) dan
Corestian Meditations (1929) .
Husserl dikenal dengan doktrin
ajarannya tentang “fenomenologi murni’’. Dalam menjelaskannya ia
menggunakan “metode reduksi fenomenologis’’. Ada prioritas ilmu
fenomenologi di atas ilmu fisika dan psikologi apapun. Fenomenologi
merupakan bentuk mendasar dari ontologi. Hal ini terlihat dari gaya
fenomenologisnya Heidegger tentang doktrinnya Dasein. Hasil dari
analisis fenomenologi bahwa esensi Dasein terletak pada eksistensinnya.
Penjelasan Heiddeger tentang Dasein, yang mendahului penjelasannya
tentang segala yang ada, membawa kepada pembicaraannya tentang esistensi
manusia, sehingga Heiddeger lebih tepat di golongkan kedalam kelompok
eksistensialisme.
h. Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran
pemikiran yang menekankan bahwa sesuatu itu ada. Berbeda dengan esensi,
yang menekankan keapaan sesuatu. Lebih jauh eksistensi adalah
kesempurnaan. Dengan kesempurnaan, sesuatu menjadi suatu eksisten.
Eksisitensialisme merupakan sebuah gerakan filosofis yang menentang
esensialisme. Pusat pertahiannya adalah situasi manusia. Segala gejala
berpangkal pada eksisitensi dan pandangan mereka relatif modern dalam
filsafat meskipun benih-benihnya sudah ada dalam filsafat Yunani dan
Zaman Pertengahan.
C. SIMPULAN
Zaman Renaissance rupanya dianggap
juga sebagai suatu babak penting dalam sejarah peradaban. Voltaire,
orang yang membagi sejarah peradaban, menganggap Renaissance merupakan
babak ketiga dari keempat babak itu. Pada abad ke 19, Renaissance
terutama dipandang sebagai masa yang penting dalam seni dan sastra.
Zaman Modern filsafat didahului oleh Zaman Renaissance . Sebenarnya
secara esensial Zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda
dari Zaman Modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat
modern. ciri utama Renaissance ialah humanism, individualism,lepas dari
agama (tidak mau diatur oleh agama), empirisme, dan rasionalisme.hasil
yang diperoleh dari watak itu ialah pengetahuan rasional berkembang.
Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes.
Zaman Aufklarung ini dikenal dengan
“zaman pencerahan” atau “zaman fajar budi”. Aufklarung merupakan
kelanjutan dari renaissance, kalau renaissance dipandang sebagai
peremajaan pikiran, maka aufklarung menjadi masa pendewasaannya.
Aliran-aliran dalam perkembangan filsafat Barat, yaitu:
1. Rasionalisme
2. Empirisme
3. Kantianisme
4. Idealisme
5. Positivisme
6. Pragmatisme
7. Fenomenologi
8. Eksistensialisme
Sunday, 17 August 2014
Tujuan dan Pengertian Periodisasi
Klasifikasi dalam ilmu sejarah menghasilkan pembagian zaman, periode,
babakan waktu atau masa. Kurun adalah satu kesatuan waktu yang isi, bentuk
dan waktunya tertentu.
Dalam periodisasi diadakan serialisasi rangkaian babakan menurut urutan
zaman. Sejarah dibagi-bagi menjadi zaman-zaman dengan ciri-cirinya masingmasing.
Periodisasi sangat penting dalam historiografi karena merupakan batang
tubuh cerita sejarah. Periodisasi mengungkapkan ikhtisar sejarah dan di
dalamnya harus dapat dikenali jiwa atau semangat setiap zaman, masing-masing
pola dan struktur urutan kejadian, atau peristiwa-peristiwa. Periodisasi dapat
disusun berdasarkan perkembangan politik, perekonomian, kesenian, agama
dan sebagainya. Setiap penulis sejarah bebas menentukan/memilih periodisasi,
yang mencerminkan keyakinannya, pendiriannya, dan visi sejarahnya.
a. Pengertian Periodisasi
Periodisasi atau pembabakan waktu adalah salah satu proses strukturisasi
waktu dalam sejarah dengan pembagian atas beberapa babak, zaman atau
periode. Peristiwa-peristiwa masa lampau yang begitu banyak dibagi-bagi dan
dikelompokkan menurut sifat, unit, atau bentuk sehingga membentuk satu
kesatuan waktu tertentu. Periodisasi atau pembagian babakan waktu merupakan
inti cerita sejarah.
b. Tujuan Periodisasi
Mengetahui pembabakan waktu sejarah akan sangat bermanfaat bukan saja
bagi penulis sejarah akan tetapi juga bagi para pembaca/penggemar cerita
sejarah apalagi bagi para siswa yang belajar ilmu sejarah. Cerita sejarah yang
ditulis para sejarawan dengan menempatkan skenario peristiwa sejarah dalam
setting babakan waktu, akan sangat memudahkan serta menarik para pembaca
atau siswa untuk mengetahui peristiwa sejarah secara kronologis.
Adapun tujuan dari pembabakan waktu adalah sebagai berikut.
1) Melakukan penyederhanaan
Gerak pikiran dalam usaha mengerti ialah melakukan penyederhanaan.
Begitu banyaknya peristiwa-peristiwa sejarah yang beraneka ragam disusun
menjadi sederhana, sehingga mendapatkan ikhtisar yang mudah dimengerti.
2) Memudahkan klasifikasi dalam ilmu sejarah
Klasifikasi dalam ilmu alam meletakkan dasar pembagian jenis,
golongan suku, bangsa, dan seterusnya. Klasifikasi dalam ilmu sejarah
meletakkan dasar babakan waktu. Masa lalu yang tidak terbatas peristiwa
dan waktunya dipastikan isi, bentuk, dan waktunya menjadi bagian-bagian
babakan waktu.
3) Mengetahui peristiwa sejarah secara kronologis
Menguraikan peristiwa sejarah secara kronologis akan memudahkan
pemecahan suatu masalah. Ahli kronologi menerangkan pelbagai tarikh,
atau sistem pemenggalan yang telah dipakai dipelbagai tempat dan waktu,
memungkinkan kita untuk menerjemahkan pemenggalan dari satu tarikh
ke tarikh yang lain.
4) Memudahkan pengertian
Gambaran peristiwa-peristiwa masa lampau yang sedemikian banyak
itu dikelompok-kelompokkan, disederhanakan, dan diikhtisarkan menjadi
satu tatanan (orde), sehingga memudahkan pengertian.
5) Untuk memenuhi persyaratan sistematika ilmu pengetahuan
Semua peristiwa masa lampau itu setelah dikelompokkan antara
motivasi dan pengaruh peristiwa itu kemudian disusun secara sistematis.
Jadi, tujuan diadakannya periodisasi ialah untuk mengadakan tinjauan
menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa dan saling hubungannya dengan
berbagai aspeknya. Pelaksanaan periodisasi yang paling mudah ialah dengan
pembabakan yang disusun berdasarkan urutan abad. Akan tetapi, periodisasi
yang demikian mempunyai kelemahan tidak mengungkapkan corak yang
khas zaman-zaman yang ditinjau.
Subscribe to:
Posts (Atom)